06 January 2012

MENJADI KERE DI NEGERI PERLENTE

Sebenarnya sore ini aku ada Jadwal main Tenes seperti biasa setiap hari jumat, namun aku harus ke pasar Martapura ada sesuatu yang ingin aku beli disana, aku geber sepeda motorku aku lihat di penanda bahan bakar ternyata bensin sudah hampir habis, ditengah jalan aku mencari SPBU untuk mencari bensin, rencana mau ke SPBU Loktabat tapi jalan memutarnya kok jauh, jadi langsung saja aku ke SPBU Simpang Empat yang ada tugu Banjarbaru. Wow aku lihat antrian truk untuk pengisian Solar panjang sekali sampai-sampai aku tidak bisa menembus jalan masuk SPBU, terpaksa aku masuk lewat jalan keluar, dengan super Pdnya aku lansung menuju bagian antrian sepeda motor, ada sekitar 10 sepeda motor, kulihat di ujung antrian ternyata ada tempat kosong, tak pikir panjang aku langsung menembus antrian menuju di tempat nomor satu ,
Aku bilang, “ isi bensinya Mas, full tank “.
Penjaga pom diam saja, aku susul dengan pertanyaan, “ bensinya ada kan ?”,
jawab petugas tersebut ,”oh, bensin mas ?, ada sejam lagi”.
Dalam hatiku “O o....*&^%^%$##@#%$.” terpaksa akhirnya membeli pertamax 20 ribu, untuk sekedar mengisi tanki biar tidak kosong benar dan juga daripada nanti dorong di jalan, sudah menggeh-menggeh, gembrobyos, pet petan dan malah bakal tambah ongkos beli es Teler, menambah pengeluaran kan jadinya.
Selintas aku teringat sekitar tahun 1984, sambil menunggu sandiwara radio Saur Sepuh jam 12.30 di radio Mataram Buana Suara (MBS) yang mengisahkan pengembaraan Brama Kumbara dan Mantili adiknya di dunia persilatan.Sebelum acara itu, yaitu mualai pukul 12 siang biasanya terdengar diradio siaran berita nasional yang di relay langsung dari RRI Jakarata , sebenarnya bukan hanya jam 12 saja tapi siaran berita itu ada setiap jam yang memberitakan masalah umum nasional, khusus untuk jam 11 dan jam 3 adalah berita olah raga. Aku tidak mendengarkan berita itu karena menurutku acara berita itu sangatlah monoton dan membosankan, aku stel radio itu hanya untuk menunggu pendekar sakti Brama kumbara yang menguasai ajian serat jiwa itu menaklukkan musuh-musuhnya. Tapi dari berita itu terlintas betapa saat itu indonesia adalah negara yang hebat, peresmian ini itu, panen raya, Temu Petani sukses, swasembada pangan, wah banyak deh apalagi kalau pak Harmoko yang rambutnya klimis mengkilat itu bicara betapa majunya perekonomian Indonesia, aneka hasil pertanian dari bawang merah, bawang putih, tomat, wortel, kol, dan tak lupa cabai kriting, disebutkan juga mengenai export kerajinan, perkebunan yang bersifat non migas , dan ekspor migasnya. Nah mulai disini baru tersadar kalau sebenarnya negara kita tercinta ini adalah negara yang sumber migasnya berlimpah dan bahkan sampai diekspor keluar negeri.
Menurut Dr. Hendri Saparini di Zaki Permana’s Blog, sebenarnya kita mempunyai cadangan migas yang luar biasa yaitu sekitar 86,9 miliar barel dan gas bumi sekitar 384,7 triliun standar kaki kubik. Sungguh sangat besar. Namun sayang seribu kali sayang Sumberdaya migas Indonesia yang sudah dieksplorasi maupun yang masih berupa cadangan yang sangat besar itu, hampir semuanya, sekitar 90%, dikuasai asing. Bayangkan. Lebih seratus tahun pengelolaan industri migas berlangsung di negeri ini, namun peran maupun kiprah industri migas nasional masih sangat rendah. Kondisi ini sangat berbeda dengan negara lain yang berusaha meningkatkan perannya dalam mengelola sumberdaya alam migas.
Contoh paling mudah adalah Malaysia. Negara jiran kita yang pada tahun 1970-an belajar dari Pertamina, saat ini, melalui Petronas, sudah menguasai pengolahan migas di negaranya dan dilakukan oleh putra-putri Malaysia sendiri. Bukan itu saja, Petronas juga sudah merambah ke berbagai negara untuk melakukan eksplorasi. Bandingan lain adalah pengelolaan migas di Cina. Peran industri migas asing di negeri tersebut amat minimal, kurang dari 5%.
Jika negara-negara lain berusaha untuk menguasai sumberdaya alam migas karena yakin bahwa penguasaan sumber energi alam ini akan menjadi kunci kemandirian dan kemajuan bangsa, mengapa keyakinan yang sama tidak ada pada para pejabat Indonesia? Bagi saya, hal ini bisa terjadi tidak lain kecuali karena banyak pejabat yang menjadi subordinasi dari kepentingan asing. Jadi, tidak salah bahwa Indonesia memang masih dijajah dalam bentuk penjajahan yang berbeda
Jadi kenapa kita bisa kere BBM (di Kalsel loh maksud ulun ) , sementara di negeri ini berlimpah tambang minyak, inilah retoris , tasarah pian haja gin, kaia apa kaina....

4 comments:

Kepripolitik said...

Ternyata SDA melimpah tidak mutlak rakyat makmur sentosa ya mas....mudah2an Indonesia dgn SDA di barengin dgn SDM yg mumpuni bisa menjadi Bangsa yg Sentosa seperti mas Edi Santoso. Amin... ngomong2 bahasa daerah itu artinya apa mas?? Ayo mas tetap menulis mas..

Unknown said...

oh iya itu artinya, terserah anda menilainya , iya pak Indra, kalau di kalsel sering krisis BBM, terutama solar, antrianya bisa sampai hampir 1 km, makasih komenya

Tina said...

..........wah ada Bramakumbara, Raja Madangkara dan Mantili, Si Pedang Setan disini :D :D

Menurutku negeri kita punya banyak SDM yang pinter tapi kurang berani mengambil keputusan, mas Edi, mungkin salah satunya seperti yang njenengan sampaikan, bahwa

"... hal ini bisa terjadi tidak lain kecuali karena banyak pejabat yang menjadi subordinasi dari kepentingan asing."

Semoga nanti negeri kita di masa yang akan datang bisa menjadi “MENJADI PERLENTE DI NEGERI PERLENTE” juga ;) ;)

Unknown said...

setuju mbak Tina, Indonesia perlu pembangunan Karakter manusia bukan hanya sekedar pendidikan yang sifatnya superficial, tapi harus lebih mendalam