02 June 2013

BATU (sebuah cerita)

Ini adalah cerita tentang batu,tentang kerasnya, tentang hitamnya. sebuah batu besar dengan bentuk yang tidak teratur teronggok di jalan utama Desa Grojokan Wetan, batu itu memang sudah lama berada disitu tidak ada yang tahu sejak kapan batu itu ada di situ, tidak ada masalah sampai saat ini, namun ketika seorang kepala desa baru terpilih dan memerintahkan untuk menghancurkan batu itu dengan tujuan agar jalan utama Desa itu berbentuk lurus dan ada tanaman bunga di antara dua jalur berlawanan arah, pada saat ini jalan utama Desa memutar mengelilingi batu tersebut batu itu keras sekali sudah dilakukan segala macam usaha untuk menghancurkanya, pernah dicoba menghancurkan dengan bergotong royog seluruh warga desa , dengan membawa palu yang dipunyai oleh warga, selama 7 hari dilakukan penghancuran akan tetapi sang
batu tetap saja teronngok dengan angkuhnya, "ckckcck ini batu neraka !!!!, seharian aku pukuli tapi sedikitpun tidak ada retak" keluh sutarjo sambil menyeka keringat di dahinya. "walah kang Tarjo, lihatlah palu saya ini sampai terbelah jadi dua dan batu itupun masih utuh" kata Sumijo menimpali keluhan Sutarjo "payah...payah....."kata Triyo sambil mengelus elus batu itu dan menatapnya dengan tatapan yang penuh pertanyaan. "Sudah Kang.....kita pulang dulu hari sudah sore" Teriak pak Lurah dari arah berlawanan pak tarjo dan pak triyo. keesokan harinya ketika pagi masih begitu dingin, embun memandikan sekujur Batu itu dan warnanya semakin hitam semakin kelam hari ini penduduk desa dengan semangat yang telah merdeka dari sandera kelelahan, matanya berbinar dan seolah olah memecahkan batu itu adalah pekerjaan yang sangat ringan, kini mereka membawa palu yang lebih besar, palu yang lebih berat. berbondong bondong mereka mendatangi onggokan batu itu. setelah pak Lurah berkomando beramai ramai penduduk desa mengempur batu itu. waktu terus berjalan dan masih seperti yang kemarin, sedikitpun batu itu tidak pecah bahkan retak sekalipun. "edan tenan.....hughhh...." sambil meludahi batu itu sutoyo mengumpat "pak Lurah...pak Lurah....." sukriyo memanggil pak lurah sepertinya, " Pak Lurah...sepertinya kita tidak akan pernah bisa memecahkan batu ini" berbicara sambil terengah-engah. "pak Kriyo, kita tidak boleh putus asa dari Rahmad Alloh kita pasti bisa memecahkan batu itu " jawab pak lurah dengan bijaksana. "Tapi kita sudah berhari hari menggempur batu itu dan batu itu masih saja utuh" kata tarjo mencoba mendukung pak kriyo. " waktu sudah sore mari kita pulang kejaan kita lanjutkan esok pagi.
malam itu di pos jaga malam sukriyo, Triyo, sutarjo asik ngobrol mengisi malam
"kang Triyo" sukriyo membuka pembicaraan, memecah suasana, "opo kri..."Triyo membalas dengan dingin, "rasanya pak lurah sudah hilang akal..."sukriyo meneruskan percakapanya" Triyo mengerutkan dahi sambil mengangkat secangkir kopi yang mengantarkan seteguk kopi panas mengaliri tenggorokanya. " batu itu nggak mungkin dipecahkan, nggak mungkin....kalaau memang bisa dipecahkan pasti nenek moyang kita bisa memecahkanya sejak jaman dulu....nyatanya batu itu masih ada sampai sekarang." kata sukriyo sambil mata menerawang jauh....seolah ia melihat almarhum kakeknya yang sudah meninggal." begini loh kang Kriyo....pak lurah itu kan sudah kita pilih, yah harusnya kita mau dipimpinya, kita harus mau mengikuti pendapatnya, aku setuju kok kalau batu itu harus dihancurkan supaya Desa kita lebih tertata apik"tarjo mulai nimbrung percakapan, dan meneruskan pembicaraanya, "kang Tri, kang Kriyo..ini kalau kalian setuju aku punya kenalan orang sakti, gimana kalau kita minta restu agar lebih mudah menghancurkan batu itu"
"nangendi iku Tar ? setuju aku mbok njajal di kita datengi...."bergegas mereka menuju desa sebelah untuk mendatangi orang pintar tersebut.

Bbbbbaahhh....bbbbbaaahhh.........bbbbbahhh.............orang dengan blankon hitam dan baju "sorjan" warna senada itu menyemburkan air bunga ke palu Sukriyo, Tarjo dan Triyo dengan suara terbata dan berat orang itu berpesan kepada tiga orang tersebut, katanya " Le...pukulah batu itu dengan palumu yang sudah aku mandikan dengan air bunga itu. kalau dipukulkan ke batu karang batu itu akan lebur jadi abu, kalau dipukulkan ke bukit, bukit akan runtuh yakinlah batu sekeras apapun pasti akan hancur hahahahaha...." Tarjo mendengarkan sambil mengangguk angguk. Setelah berpamitan dan memberi sedikit sedekah Sukriyo Tarjo dan Triyo, meninggalkan rumah orang pintar itu dan merasa sudah tidak sabar untuk menggunakan palu yang ia bawa untuk segera menundukkan keangkuhan si batu hitam yang nampak congkak dan sombong.

Pagi mulai mengoyak malam, udara pagi yang segar mengalir dengan lembut kedalam tubuh warga Desa Gerojokan Wetan, menghembuskan semangat membangunkan raga raga yang tengah terlelap terselimuti malam, orkestra pagi antara kicau burung, angin berhembus dan suara kokok ayam membawa Kriyo dan penduduk desa bergegas ke jalan utama untuk kembali berusaha menghancurkan Batu hitam itu.
Tarjo dengan dengan begitu gembira memanggul palunya menuju tempat kerja bakti " hai batu inilah waktuku melunasi dendamku kepadamu". setelah sampai disana kembali para penduduk desa mengayunkan palu miliknya untuk menghancurkan batu tersebut, Kriyo mengayunkan palunya sementara Triyo  dan tarjo ada disampingnya sambil menunggu apa yang terjadi kalau palu Kang Triyo yang sudah direstui oleh orang pintar tadi malam membentur batu itu, dan setelah sekian waktu menunggu " daar....dar...dar..." palu membentur batu dan yang terjadi adalah batu itu tetap utuh tidak pecah bahkan retak sekalipun. Melihat hal itu Triyo dan Tarjo segera mengangkat palu masing masing dan dengan membabi buta memukulkan dengan sekuat tenaga di permukaan batu , tiga orang itu nampak kesetanan. Dari jauh pak lurah melihat dan merasa aneh, pak lurah mendekati ketiga orang yang sedang mengamuk memukuli batu itu. Pak lurah menatap dengan heran sementara Kriyo, Tarjo dan Triyo tetap asik memukuli batu itu. Karena Heran Pak Lurah menyapa " Jo....." seketika itu Tarjo berhenti, menoleh ke arah Pak Lurah dan menyadari lelah yang telah dirasakannya
"eh...pak Lurah....." Tarjo menjawab sambil terengah-engah
"Kamu kenapa kok kaya orang kerasukan gitu " tanya Pak Lurah
"Palu kami ini sudah mendapatkan restu dari orang pintar, katanya jangankan Batu, bajapun akan hancur lebur jadi abu, tapi ternyata....huh.....palu kami yang mental dari kerasnya kenyataan" jelas Tarjo
"hah orang pintar ?"
"Iya pak Lurah Tadi malam kami bertiga ke Desa Gerojokan Kidul untuk mencari orang pintar"
"Aduh-aduh,.... kamu ini kok ada ada saja" kata pak lurah sambil geleng-geleng
" pak Lurah......saya harus bagaimana ?" Kriyo mengungkapkan keputus asaanya
" kita harus sabar, kita bisa memecahkan batu itu, kita harus lebih rajin, lebih ulet" kata pak lurah sambil mengayunkan Palu dengan sekeras kerasnya. dan diikuti oleh ketiga orang itu

Jam istirahat siang sudah sampai sementara batu itu masih seperti semula baik bentuknya maupun posisinya.
sambil makan bersama Supomo mendekati pak lurah
"Pak Lurah....saya punya kenalan seorang ahli Geologi" ucapnya membuka percakapan
"Ahli geologi ? pak lurah mengerutkan dahi dan menunduk ke arah Supomo
" iya pak "
"trus"
"Begini Pak Lurah, temen saya itu  mempunyai ilmu tentang batu, nah siapa tau temen saya bisa membantu memecahkan batu itu " Jelas Supomo
"Oh kalau Begitu coba saya dipertemukan sama temenmu tadi"
" siap Pak Lurah" sahut Supomo dengan semangat

Bardi adalah seorang pakar Geologi dia menguasai tentang bumi dan lapis-lapis bumi, mengenai tebing, perbukitan dan bebatuan. Bardi duduk di kantor Lurah, memakai baju kotak-kotak, celana jean dan berkacamata. Pak lurah menemuinya setelah beberapa saat Bardi menunggu
" Saya atas nama seluruh warga meminta bantuan pak Bardi mengatasi masalah di desa kami"kata pak Lurah
" masalah apa pak ?Bardi menjawab dengan pertanyaan
Pak Lurah dengan panjang lebar menceritakan tentang Batu besar dengan diameter 10 meter dan tinggi 5 meter yang keras itu, Batu yang sejak nenek moyang berada di Jalan Utama Desa, sampai sekarang tetap ada disitu dan saat ini pak Lurah ingin sekali menghancurkan batu itu.
"Pak lurah, menurut pengalaman saya, setiap batu mempunyai serat-serat dan disitulah batu bisa dipecahkan nanti kita pasang beberapa peledak di titik-titik tertentu sesuai dengan serat batu itu, setelah kita tarik pemicunya kemudian ada ledakan dan batu pasti akan hancur" Bardi menjelaskan cara menghancurkan batu itu
"Pak Bardi sebenarnya bukan hanya batu itu yang ingin kami pecahkan akan tetapi kami juga ingin memecahkan keyakinan warga, bahwa kita tidak boleh berputus asa, semua pasti ada jalan keluar " pak Lurah menutup pembicaraan.

Keesokan harinya Pak Bardi dengan membawa perlengkapan 3 buah koper besar dibawa ke tempat batu itu, pak lurah menyusul berada di lokasi, dengan seksama penduduk desa memperhatikan kerja Pak Bardi mengamat amati batu memperhatikan serat batu dan meletakka sesuatu di beberapa titik dan mengulur kabel panjang yang berujung pada sebuah koper. setelah pak lurah berbisik bisik dengan pak Bardi pak lurah mengambil posisi dan memegang mikrophon dan memberikan sambutan.
"Ibu , Bapak dan Saudara sekalian seperti yang saya sering katakan bahwa kita tidak boleh putus asa jalan keluar pasti ada, dan hari ini kita bersama sama menjadi saksi hancurnya batu itu. saudara-saudara batu itu akan diledakan kami mohon semuanya ada di posisi yang aman, kepada pak Bardi setelah semua siap kami persilahkan untuk memulai meledakkanya" bergegas penduduk desa mengambil tempat yang aman. setelah semua siap pak lurah memberikan aba-aba Siap Pak Bardi dalam hitungan ketiga ya pak ....satu.......( warga mulai penasaran jadi apa batu itu setelah diledakan) ...dua...( degup jantung bertambah cepat) ......tiga...
DDDDUUUUUUMMMMM..........( warga menutup telinga) asap hitam mengepul diatas batu itu, warga desa melotot tanpa berkedip melihat kepulan asap hitam tersebut. dengan penuh penasaran Kriyo Tarjo dan Triyo sambil bergumam....." rasakan wahai batu,......hancur kamu....." setelah ditunggu beberapa waktu dan setelah asap hitam menghilang ternyata onggokan batu itu tetap gagah berdiri.....dengan kerasnya dengan hitamnya. melihat hal itu pak lurah mendekati pak Bardi dan tidak tahu apa yang di katakan kemudian pak lurah menghamburkan peledak di permukaan tanah dekat batu itu, dan sekali lagi pak lurah mengambil mikropon dan katanya " Bapak ibu sekalian carilah tempat yang aman karena peledakan kedua akan dilakukan. Beberapa saat kemudian terdengar ledakan kedua dengan ledakan yang lebih besar dan asap hitam yang lebih pekat, Ledakan besar di tanah itu mampu membuat lobang yang sangat besar dan Batu Hitam itu masuk ke dalam lobang hasil ledakan tersebut. Al hasil permukaan tanah menjadi rata. dan jalan utama desa tidak usah memutar mengelilingi Batu yang sudah hilang itu.

Dalam hati Pak Lurah " Kadang kenyataan memang pahit, kita berusaha untuk menghancurkanya, segala upaya dilakukan, akan tetapi memasukkanya kedalam bumi kalbu dengan keiklasan dan ketelusan ternyata lebih bermanfaat daripada melawan kenyataan tersebut".
             ---------------Semoga Bermanfaat-------------